Belajar Piano, Salah Satu Impian yang “Hampir” Tercoret

Standard

Orang bilang, masa anak – anak adalah masa yang paling menyenangkan. Masa ketika impian melambung tinggi. Masa ketika tidak memikirkan apapun tetang sebuah kesalahan. Masa ketika semua hal dianggap sebagai sebuah permainan. Begitu pula dengan masa kecil saya. Waktu itu saya menganggap bahwa semua hal menyenangkan. Saya dikelilingi oleh orang – orang yang sangat hebat menurut saya kala itu, sehingga muncullah satu per satu impian saya. Every child is a special, as a wise man say, and I did agree at that time.

Ada salah satu teman saya yang mahir sekali memainkan electone (Electone di sini jangan dianggap sebagai alat musik yang biasa dimainkan saat kondangan ya, asal tahu saja, orang – orang salah jika menyebut alat musik itu adalah electone karena alat musik tersebut adalah keyboard). Dia mahir sekali memainkan kesepuluh jarinya di atas tuts electone, pun pula menekan – nekan pedal yang panjangnya sekitar +/- 1 oktaf itu. Pun pula mahir membaca partitur lagu yang isinya “pentol-pentol” itu dan cara membacanya yang aduhai, langsungย  sekaligus 3 baris karena membaca not untuk tangan kanan, tangan kiri, dan kaki. Betapa hebatnya…. Wah, saya pikir saat itu alangkah kerennya jika saya juga bisa memainkan electone sama seperti dia.

Beranjak ABG, saya suka sekali dengan permainan piano. Tiba – tiba terlintas di pikiran saya untuk bisa belajar piano. Saya hanya tertawa saja,ย wong alatnya saja saya tidak punya, mau sok – sok an belajar. Hingga suatu saat, Budhe saya yang waktu itu baru saja pulang dari Malaysia, berjualan keyboard mainan (yang harganya 200k) dan orang tua saya entah kenapa tiba – tiba membeli keyboard tersebut. Alhasil kala itu saya sibuk berkutat dengan “eksperimen baru” saya.ย  Saya pikir saat itu, chord – chord yang ada hanyalah pola – pola yang sama dengan hanya memindahkan jari saja. Sehingga saya coba untuk memainkan kumpulan lagu – lagu pop kakak saya di keyboard tersebut dengan hasil coba – coba saya. Not bad, but not good too, hahaha. Tapi anehnya, permainan saya tadi malah di-husnudzon-i dengan Papa saya. Alhasil, satu minggu kemudian saya telah terdaftar sebagai murid di Piano Yamaha Music Foundation.

Guru piano saya bernama Vincentius Prasasto Widhoyoko. Saat hari pertama kursus, pelajaran yang pertama kali dikenalkan oleh Pak Yoko adalah tentang not balok. Saya kaget karena baru semenit diterangkan, saya sudah langsung disuruh mempraktekkan di piano. Belajar untuk yang pertama kali memang berat di awal. Tapi ternyata setelah dipelajari, semua mengalir begitu saja. Hingga saya beranjak dari yang awalnya hanya belajar piano classic, saya diajari memainkan “chord yang benar” dengan iringan piano (saya jadi malu setengah mati karena akhirnya saya menyadari bahwa eksperimen saya saat di awal bermain dengan keybord adalah sebuah kegagalan, hahaha) dalam irama pop. Lalu beranjak ke swing, jazz walaupun akhirnya saya putus kursus karena saya harus fokus untuk mempersiapkan kuliah.

Image

Belajar Piano adalah salah satu dari impian – impian saya yang hampir tercoret. Mengapa saya katakan “hampir”? Karena pada hakikatnya sampai sekarang saya masih belajar memainkannya, walaupun tanpa pendamping. Namanya juga belajar, artinya kita akan selalu merasa untuk kekurangan ilmu, maka dari itu perlu dikembangkan terus.

Salah satu tujuan saya menulis artikel ini, selain mengenang masa – masa saat kursus piano juga saya ingin memberikan beberapa kesimpulan penting kepada anda yang sedang atau akan belajar piano:

1. Ketika di awal belajar piano, maka sugestikan kepada pikiran anda bahwa suatu saat nanti anda pun bisa seperti pianist – pianist yang terkenal sekarang. Jangan pernah meremehtemehkan impian kita, seberapapun besarnya itu.

2. Piano mengajarkan tentang kesabaran. Jadi jangan dipikir bahwa sekali belajar anda langsung bisa (kecuali jika anda berbakat sekali). Anda perlu belajar sabar dalam hal ini. Tidak sedikit juga orang yang keluar dari kursus piano hanya karena tidak sabaran atas permainan lagu – lagu yang sama dalam satu pertemuan.

3. Nikmati prosesnya. Dalam belajar piano diperlukan serangkaian latihan yang teratur. Jika dalam seminggu anda hanya bermain piano selama 1 hari itupun dalam kurun waktu 30 menit, maka anda harus menambah jadwal latihan di hari lainnya. Ada yang bilang minimal 5 jam, ada yang bilang 1 jam, tapi kalau saya bilang, latihan saja sesuai dengan kemampuan anda, asal anda ikhlas melakukannya. Percuma saja kan belajar 1 jam tapi ternyata anda tidak konsentrasi dalam memainkan notnya. Yang penting adalah teratur. Saat saya masih aktif kursus piano, ketidakteraturan dalam penjadwalan latihan saya lah yang sekarang menjadi bagian yang saya sesali.

4. Piano mengajarkan keteraturan. Sehingga kalau jari anda salah, janganlah anda kekeuh untuk mempertahankan jari yang salah itu dengan alasan malas pindah jari. Padahal setting jari yang ada di partitur lagu itu sudah dipikirkan sedemikian rupa oleh penciptanya sehingga kita mudah dalam memainkannya. Jadilah orang yang penurut dalam hal ini.๐Ÿ™‚

5. Piano mengajarkan kelembutan dan memasukkan emosi ke dalam semua lagu yang kita mainkan. Jika diminta pelan, maka mainkanlah pelan, ketika diminta bersemangat, maka mainkan dengan semangat, jika yang diinginkan dari lembut hingga mengeras, maka lakukanlah itu. Nikmati semua ekspresi yang ada.

6. Piano mengajarkan ketelitian. Dalam membaca not, kita juga harus menghitung jumlah ketukan dan temponya, sehingga kita harus teliti dalam memperhitungkan angka – angka ini, contohnya, jangan sampai salah membaca 4/4 jadi 3/4, lhah kan nggak cucok boo.

Begitulah, asyik sekali belajar piano. Jika anda sudah terbiasa untuk belajar piano, maka sebenarnya anda akan menemukan kepribadian anda dikemudian hari, hampir mirip dengan apa yang piano ajarkan kepada anda. Hidup secara optimis, dilingkupi kesabaran, menikmati segala proses hidup yang ada, teratur, memainkan perasaan kita di setiap kondisi, kelembutan, hingga ketelitian. Tak jarang juga saya menemukan banyak orang – orang yang benar – benar mendalami piano memiliki kepribadian yang seperi itu. Guru saya saja misalnya, sungguh sabar sekali kalau mengajar dan selalu bersyukur, menikmati segala proses yang ada dalam hidup ini.

[PS] Jika ada yang ingin tahu video – video permainan piano saya, dapat dilihat di sini : Trying To Be Pianist, Trying To Be Pianist2, Trying To Be Pianist3

Piano bisa mengajarkan kita tentang kehidupan. Asal kita benar – benar mengimplementasikan ilmu piano tersebut ke dalam setiap fasa kehidupan kita.

4 responses »

  1. pengalaman yang sangat berharga,. jadi lbih pingin bisa lancar bermain piano,.
    salam kenal yaa,.
    mampir ke blog saya ,. ndahbiz.blogspot.com

  2. wah ebad2 hehe =D
    cc numpang nanya, aku baru belajar piano 2 bulanan.. di hari pertama nyoba emang sdikit amburadul sih tp dlm kurun waktu 1 minggu aku dr yg g bsa main..
    ( sama skali g pernah nyentuh piano.. bahkan dolo waktu SD aj kesel bgd ma piano gr2 disuru mainin lagu e.x : Ibu kita kartini pake pianika.. stres dah niup + ngangkat berat2 sambil maenin melodi ny.. )
    mala tiba2 bisa.. and ortu ku kaget sih soalny diledekin mana mungkin bisa soalny bukan dr kecil belajarny mala tb2 bsa hehe.. ( lagu ny Big Bang – Blue << judul ny )
    itu termasuk berbakat ato engga cc ?? ( klo skarang sih ud mulai bsa ngeluarin emosi ny waktu main jd dr suara lembut trus dikerasin lg and gtu deh.. hehe )

    piano itu seru cc, aku bru tau abis g ad kerjaan slama liburan hehe and skarang da bsa main byk lagu..

    • Hallo, salam kenal aaron.๐Ÿ™‚ Hm, sebetulnya saya juga bukan psikolog juga yang bisa nentuin itu bakat atau tidak, hehehe. Tapi yang jelas, akhirnya kamu bisa mengeksplor salah satu passion kamu: belajar piano. Dulu saya juga nggak ngerti sama sekali tentang belajar piano(*seperti yang tertulis di artikel), akan tetapi, pada akhirnya kerja keras untuk mengeksplor passion tadi, terlihat juga oleh orang lain (*papa saya) sehingga saya bisa kursus. Saya sarankan, kamu ambil kursus aja, untuk bisa mengeksplor lebih mendalam lagi. Dan percaya deh, sangat mengasyikkan belajar piano yang diawali dengan curiosity. Tanpa paksaan belajarnya. Teman saya contohnya, dari kecil dipaksa orang tuanya belajar piano, nggak kuat belajar, akhirnya putus di tengah jalan. Sekarang dia menyesal karena dulu nggak belajar piano. Kalo misalkan kamu pengen kursus, mending secepatnya, soalnya biasanya harga kursus semakin mahal setiap tahunnya (*ya, sama seperti masuk sekolah lah ya). Atau belajar manual lewat youtube, juga bisa. Belajar otodidak itu pada dasarnya menyenangkan, selain nggak berat di ongkos juga๐Ÿ˜€. Akan tetapi, lebih menyenangkan lagi jika ada orang yang bisa memberi kamu masukan dalam bermain, seperti seorang guru piano, dan dia juga bisa menceritakan pengalaman2nya saat belajar piano. Pengetahuannya so pasti lebih luas juga. Atau ikutan club2 pengeksplor permainan piano juga bisa. Semangat ya belajar piano-nya. Untuk pemula saya sarankan memainkan partitur lagu dari Mikayuri (*ini bukan promosi, hehe). Soalnya sudah komplit not plus chordnya sesuai dengan lagu aslinya. Semangat๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s