Sepintas Opini tentang Ronggeng Dukuh Paruk

Standard

Image

[Picture: Sang Penari, a film adopted from Trilogy Ronggeng Dukuh Paruk]

….

“Istri?”

“Bukan. Aku masih bujangan.”

“Adik?”

“Bukan. Hanya saudara.”
“Hanya saudara?”

Aku diam dan menunduk. Ada angin beliung berpusar – pusar dalam kepalaku. Dan beliung itu berubah menjadi badai yang dahsyat karena aku mendengar Srintil melolong – lolong di kamarnya yang persis seperti bui.

…..

“Wah, sayang. Sungguh sayang. Sepintas kulihat dia memang, wah. Bisa kubayangkan kecantikannya di kala dia sehat. Lalu maafkan aku, Mas. Dia bukan istri, bukan pula adik sampean. Maaf, pasien itu calon istri sampean barangkali?”

“Ya!”

Bening. Tiba – tiba semuanya menjadi bening dan enteng. Oh, lega. Lega. Keangkuhan , atau kemunafikan yang selama ini berdiri angkuh di hadapanku telah kurobohkan hanya dengan sebuah kata yang begitu singkat. Segalanya menjadi ringan seperti kapuk ilalang. Aku bisa mendengar semua bisik hati yang paling lirih sekalipun. Aku dapat melihat mutiara – mutiara jiwa dalam lubuk yang paling pingit.

….

— Ahmad TohariΒ  [Ronggeng Dukuh Paruk, hal. 402-403]

Saya akui, saya sangat suka sekali dengan novel karya Ahmad Tohari yang satu ini, Ronggeng Dukuh Paruk. Seperti biasa, gaya penceritaan Ahmad Tohari berupa deskripsi total terhadap sebuah suasana selalu menghadirkan pencitraan khusus dalam ruang pikiran para penggemar novelnya. Novel ini menghadirkan sebuah cerita yang sangat merakyat (dimana kemiskinan masih menjadi topik utama dalam masyarakat), dilatarbelakangi dengan kisah sejarah pula, dan tentunya ada unsur budaya yang semakin menambah “cita rasa” dari novel ini.

Ronggeng Dukuh Paruk ini bercerita tentang seorang gadis bernama Srintil dimana dia sejak kecil memimpikan menjadi seorang Ronggeng. Kehidupan Ronggeng di Dukuh Paruk telah lama berakhir,sejak Ronggeng terakhir yang melegenda pada saat itu meninggal karena memakan tempe bongkrek buatan ayah Srintil. Menjadi seorang ronggeng bukan hanya cita – cita, melainkan pula sebagai sebuah tebusan “kematian” dan kebaktian seorang anak dukuh paruk kepada Ki Secamenggala.

Mendapatkan impiannya, sebagai seorang Ronggeng yang cantik dan kaya, justru tidak membuat Srintil berbahagia akan apa yang dimilikinya, karena ia menyadari bahwa cintanya kepada Rasus tak kan pernah terbeli dan termiliki. Srintil sadar bahwa ia : Ronggeng Dukuh Paruk adalah milik semua orang, dia boleh saja berbahagia dengan mencintai semua orang, akan tetapi tidak jika harus memberikannya hanya kepada seseorang.

Di akhir cerita, ketika semua gemerlap dunia peronggengan seorang Srintil sirna, terpuruk dalam kenangan – kenangan lama dan trauma akan kisah cintanya, Srintil menjadi gila. Kehidupan berbalik warna, akan tetapi di dalam kegilaannya ia menemukan, bahwa orang yang selama ini dicintainya sedang menolongnya, memberikan secercah cahaya kehidupan dimana mungkin dia pun telah lupa bahwa sedang menginginkannya.

Recommended novel. Ever….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s