Lintas Budaya, Siapa Takut?

Standard

“Mau kemana, La?”
“Latihan nari.”
“Ikutan UKM Jawa ya?”
“Nggak, hehe. Aku ikutan UIKA.”
“UIKA? Aceh? Lho kok?”
….

Begitulah tanggapan teman – teman saya yang sepintas bertemu di jalan ketika saya berangkat latihan menari Aceh. Semua orang sudah tahu, tentu saya pasti: orang Jawa. Akan tetapi mengikuti kegiatan UKM kebudayaan lain? Mengapa?

Jauh – jauh saya menuntut ilmu ke Bandung, meninggalkan semua tatanan kebudayaan adat Jawa yang ada dan sekedar mengantonginya di dalam kaidah perilaku dan bahasa, diam – diam saya ingin mempelajari budaya Indonesia lainnya. Tertarik dengan cerita kakak perempuan saya yang sudah-terlanjur-masuk ke dalam budaya Minangkabau, saya ikutan penasaran dengan budaya Sumatra, khususnya Aceh. Saya senang sekali dengan tarian seribu tangan miliknya dan budaya penjagaan Islam yang taat. Penasaran….

Masuk tahun pertama kuliah, saya langsung masuk Unit Informasi dan Kebudayaan Aceh (UIKA) IT Telkom. Saya senang karena saya diterima dengan baik dan pengenalan lintas budaya ini akhirnya dimulai.

Saya baru tahu kalau ternyata duduk di Aceh itu bukan hanya satu: Tari Saman, akan tetapi banyak sekali jenisnya. Dalam beberapa tarian Aceh, selalu dipimpin oleh seorang Syeikh. Syeikh bertugas untuk memimpin nyanyian. Penari akan ikut menyanyi setelah Syeikh. Iramanya sendiri (yang saya tahu) diiringi oleh rapa’i (sejenis alat musik pukul) .

Tari Saman itu ternyata khusus dimainkan oleh lelaki dengan kekhasannya yang mengandalkan suara tepukan dada yang cepat. Tariannya juga tidak hanya sekedar mengandalkan tangan, akan tetapi tubuh pun ikut diayunkan mengikuti irama dan gelengan kepala pun harus serasi setiap penari. Jadi, jika menonton tarian Aceh duduk, yang memainkannya perempuan, berarti jangan langsung diartikan itu adalah tari Saman. Saya belum tahu pasti perkembangan tari Saman saat ini mungkin (bisa saja) ditarikan oleh perempuan, akan tetapi jelas dari asalnya (khususnya tari Saman Gayo) hanya dimainkan oleh kaum lelaki. Tarian ini ternyata adalah salah satu cara seorang pemuka agama Islam pada saat itu (saya lupa namanya, hehe) yang ingin mengajarkan Islam dengan memasukkan ke dalam sebuah tarian. Maka dari itu pada tarian Aceh selalu diawali dengan salam (assalamualaikum) seperti budaya Islam dan nyanyian tariannya juga terdapat unsur pemujaan kepada Allah.

Tari Aceh duduk lainnya (yang saya tahu): Likok Pulo, Rapa’i Geleng, Ratoh Duek. Untuk Likok Pulo sendiri biasa dimainkan oleh banyak penari (lebih banyak daripada Tari Saman), bisa dimainkan baik laki – laki maupun perempuan (walaupun biasanya hanya laki – laki saja). Kesimpulan saya untuk tarian ini adalah, yang penting kekompakan dan konsentrasi dalam membawakannya karena penarinya banyak sekali.

Rapa’i Geleng dibawakan oleh laki – laki dan menggunakan rapa’i yang dimainkan bersamaan dengan tarian. Saya salut sekali dengan para penari Rapa’i Geleng karena pastilah dia membutuhkan konsentrasi yang tinggi selain dituntut memainkan rapa’i secara kompak, juga harus menari dengan penuh konsentrasi karena ada gerakan – gerakan melempar – lempar rapa’i yang harus bekerjasama dengan kawan di sebelahnya sehingga struktur kerjasama sangat terlihat dalam tarian ini.

Ratoh Duek merupakan tarian khusus untuk perempuan. Gerakannya pun dibuat luwes sehingga pantas sekali dibawakan oleh perempuan. Kebanyakan tarian – tarian yang dibawakan perempuan dan dimainkan hingga manca negara adalah tarian ini. Ada juga tarian yang khusus dibawakan perempuan lainnya yaitu Ranup Lampuan. Tarian ini adalah tarian penyambutan di awal acara jika ada tamu yang datang. Penari utama akan membawakan ranup atau biasa disebut daun sirih kepada tamu. Awalnya saya kaget karena tarian ini ternyata dibawakan dengan berdiri (karena persepsi saya waktu di awal adalah semua tarian Aceh pasti duduk, heheπŸ˜› ).

Tarian unik lainnya adalah Tarek Pukat. Intinya dari tarian ini, para penari harus membuat sebuah jaring dari tali yang dipegangnya. Jadi membutuhkan kerja sama yang bagus antar penari agar terjalin lah sebuah jaring yang benar. Sepintas menurut saya, mungkin tari ini menggambarkan tentang kehidupan pelaut dari masyarakat Aceh, tapi entah lah, mungkin anda lebih tahu? Let me knowπŸ™‚ .

Yang jelas saya sangat menyukai tarian Aceh yang selalu mengajarkan untuk berkonsentrasi, bekerjasama, kompak, mengandalkan kecepatan, dan tak lupa: selalu mengingat Tuhan. Bayangkan saja jika salah satu penari salah, maka bisa dibilang keseluruhan tarian itu adalah salah. Salah satu, salah semua. Betapa menjunjung tinggi nilai kebersamaan bukan?

Bagi anda yang sedang merantau, saya sarankan agar anda mulai mempelajari kebudayaan lainnya. Khususnya kepada para mahasiswa baru, ikutilah Unit Kesenian yang berbeda dengan kebudayaan asal anda. Indonesia itu luas. Banyak lho yang bisa dipelajari. Menambah kasanah budaya. Melestarikan budaya bangsa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s