Antara Impian dan Cita – Cita

Standard

Bertanya kepada seorang anak kecil:

“Dik, kalo udah besar nanti cita – citanya mau jadi apa?”

“Pengen jadi dokter mbaaaakkk….”

Bertanya kepada seorang teman:

“Kalo kamu cita – citanya apa?”

“Kalo aku pengen keliling dunia La…. Aku pengen ke luar negeri….”

 

 

Sejak semester 3 di bangku kuliah, sebenarnya saya sering menanyakan, apakah sebenarnya perbedaan antara impian dan cita – cita? Dengan pertanyaan yang sama, “Apakah cita – cita anda?” Jawaban yang didapat bisa bermacam – macam, bahkan berbeda alur tujuannya. Berbeda alur tujuan? Maksudnya?

Maksud dari alur tujuan di sini adalah alur tujuan dari “cita – cita yang anda sebutkan” tadi. Pada pertanyaan pertama kepada seorang anak kecil, anak kecil menjawab bercita – cita menjadi dokter. Itu artinya alur tujuan dari cita – citanya itu lebih ke arah profesi, bagaimana dia akan menghabiskan hidupnya untuk pekerjaan itu, dan dari arah mana rejeki akan datang kepadanya.

Sedangkan untuk pertanyaan kedua, kepada seorang teman, teman tersebut menjawab bercita – cita berkeliling dunia. Itu artinya alur tujuan dari cita – citanya lebih ke arah keinginan atau ambisi besar dalam hidup, dimana sebenarnya tanpa impiannya tercapai pun, dia masih tetap bisa hidup, rejeki akan tetap mengalir bersamanya.

Berbeda dengan pernyataan anak kecil, dimana jika misalkan suatu saat nanti dia benar – benar menjadi seorang dokter, dan apa yang terjadi jika dia tidak melakukan profesi tersebut? Bisa jadi rejekinya seret, dan dia tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.

Menurut saya, cita – cita adalah suatu keinginan terbesar dalam hidup untuk dapat menghabiskan hidup tersebut seperti apa yang diharapkan oleh seseorang. Dengan adanya cita – cita, maka seseorang akan terus mengusahakan segala sesuatunya, agar cita – cita tersebut dapat diraihnya sebagai penyokong kebutuhan dalam hidup. Biasanya cita – cita ini selalu dikait – kaitkan dengan materi, karena pada dasarnya manusia ingin hidup “berkecukupan”. “Cukup tinggi”  uangnya, “Cukup tinggi” jabatannya, “Cukup tinggi” prestise-nya, de el el.

Impian adalah sesuatu yang menjadi ambisi besar kehidupan kita, dimana semua hal, materi, mental hingga fisik, kita kerahkan untuk meraih impian – impian tersebut. Jika salah satu diantaranya, entah materi, mental atau fisik tidak ada, maka tidak mungkin impian dapat terwujud. Artinya, kita tidak dapat bermimpi ketika fondasi dalam meraih impian tersebut tidak kita punyai. Sehingga saya fikir, cita – cita bukanlah sebuah impian.

Jika dihadapkan pada dialog pertama dan kedua, saya fikir, jawaban anak kecil : cita – cita, jawaban seorang teman : impian. Ini berdasarkan atas pikiran saya sendiri. Mungkin anda dapat berpikir sama, atau malah menentang pemikiran saya.

Ada seorang sahabat SMA saya, bernama Nizar. Pemikirannya yang sangat bijak dalam kehidupan ini, menjadi salah satu referensi saya dalam mengambil keputusan. Semua orang memanggilnya dengan sebutan ‘Mbah Nizar’ entah karena landasan apa, akan tetapi saya memanggilnya seperti itu karena saya anggap pemikirannya yang sudah sangat jauh sekali bijaknya. Jika ditanya, ini pujian atau cercaan? Maka saya dengan jelas akan menjawabnya, “Ini sebuah pujian”.

Pada sms ke-sekian….

“Mbah, opo cita – citamu?”    ##– Mbah, apa cita – citamu?
“Cita2q? Ojo dguyu polae biasa banget n g duwur. Aq pengen dadi guru seng uripe nyantai tp sempet sedekah n slalu bersyukur.. Emoh dadi kpala sekolah aq, ngko male jarang ngajar. G asik” ##– Cita – citaku? Jangan ditertawakan, soalnya biasa sekali dan tidak tinggi. Aku pengen jadi guru yang hidupnya santai tetapi sempat sedekah dan selalu bersyukur. Tidak mau jadi kepala sekolah aku, soalnya nanti jadi jarang mengajar. Nggak asyik”
“Kalo impianmu Mbah?”
“Masuk surga… Hahaha

Impianku haji mabrur sekluarga..”

Apa yang anda fikirkan? Cukup sederhana? Ternyata cita – cita dan impian yang sederhana serta bisa membahagiakan banyak orang itu, sangat indah bukan? Satu hal yang bisa disimpulkan,

Boleh saja kita bercita – cita, bermimpi setinggi mungkin. Berambisi. Tapi jangan terlalu ambisius. Jangan terlalu egois. Bukankah menikmati segala cita – cita dan impian yang telah teraih bersama dengan orang – orang yang terkasih lebih bermakna daripada dinikmati oleh diri sendiri?

Dan yang paling penting di antara Impian dan Cita – cita : Doa Kepada Tuhan. Jika Tuhan tidak mengijinkan, maka apakah mungkin?

Untuk Mbah Nizar : Thanks for all of advices and supports. Thanks for being one of my best friends ever. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s