12 Questions About -Elektronika Daya- #1

Standard

Kali ini saya akan mencoba untuk menjawab 12 pertanyaan dari Pak Ekki Kurniawan, dosen mata kuliah Elektronika Daya (Elda). Saya menulis artikel ini untuk sekedar berbagi, barangkali pembaca menemukan pertanyaan seputar Elda yang berkaitan dengan artikel ini. Keseluruhan dari isi pertanyaan ini berkutat seputar pengantar dari mata kuliah tersebut. Segala jawaban dan gambar yang berada di bawah ini, semuanya bersumber dari buku Elektronika Daya : Power Electronics: Circuits, Devices, and Applications, 2nd Ed. Edisi Bahasa Indonesia Jilid 1, Muhammad H. Rashid. Menurut saya, buku ini merupakan buku yang sangat recommended untuk anda yang sedang belajar Elektronika Daya, pasalnya, selain penjelasannya bagus, contoh soal ada, dan soal untuk pembaca pun lengkap.

Jawaban dari 12 pertanyaan dari dosen saya ini saya jawab persis dengan yang ada pada buku Muhammad H. Rashid. Mengapa persis? Karena menurut saya, segala sumber akademik (yang tersurat) itu seharusnya memang mengacu pada buku akademik yang telah diterbitkan sehingga ada acuannya. Segala yang saya posting pada artikel ini, semata – mata saya niatkan untuk kepentingan akademik belaka. Bukan suatu bentuk komersil ataupun plagiat.

1. Apa yang dimaksud dengan elektronika daya?

Jawab:

Elektronika daya dapat didefinisikan sebagai penerapan elektronika solid-state untuk pengendalian dan konversi tenaga listrik. Elektronika daya berstandar terutama pada proses pensaklaran pada peralatan – peralatan semi kondunduktor. Dengan pengembangan tenologi semikonduktor daya, batas daya yang dapat ditangani dan kecepatan pensaklaran dari peralatan daya meningkat pesat.

2. Sebutkan macam – macam thyristor dan jelaskan dengan gambar cara kerjanya!

Jawab:

Tergantung pada konstruksi fisiknya dan perilaku turn-on dan turn-off, thyristor dapat secara umum diklasifikasikan menjadi Sembilan kategori:

  1. Phase-control thyristor (SCR)
  2. Fast-switching thyristor (SCR)
  3. Gate-turn-off thyristor (GTO)
  4. Bidirectional triode thyristor (TRIAC)
  5. Reverse-conducting thyristor (RCT)
  6. Static Induction Thyristor (SITH)
  7. Light-activated silicon-controlled rectifier (LASCR)
  8. FET-controlled thyristor (FET-CTH)
  9. MOS-controlled thyristor (MCT)

Thyristor merupakan devais seikonduktor 4 lapisan berstruktur pnpn dengan tiga pn-junction. Devais ini memiliki tiga terminal : anode, katode dan gerbang.

Thyristor dibuat melalui proses difusi.

Ketika tegangan anode dibuat lebih positif dibandingkan dengan tegangan katode, sambungan J1 dan J3 berada pada kondisi forward bias. Sambungan J2 berada pada kondisi reverse bias, dan akan mengalir arus bocor yang kecil antara anode dan katode. Pada kondisi ini thyristor dikatakan pada kondisi forward blocking dan kondisi off-state, dan arus bocor dikenal sebagai arus off-state ID. Jika tegangan anode ke katode VAK ditingkatkan hingga suatu tegangan tertentu, sambungan J2 akan bocor. Hal ini dikenal dengan avalanche breakdown dan tegangan VAK tersebut dikenal sebagai forward breakdown voltage, VBO. Dan karena J1 dan J3 sudah berada pada kondisi forward-bias, maka akan terdapat lintasan pembawa muatan bebas melewati ketiga sambungan, yang akan menghasilkan arus anode yang besar. Thyristor pada kondisi ini disebut berada pada keadaan konduksi atau keadaan hidup. Tegangan jatuh yang terjadi dikarenakan oleh tegangan ohmic antara empat layer dan biasanya cukup kecil sekitar 1 V. Pada keadaan on, arus anode dibatasi oleh resistansi atau impedansi  luar, RL.

Arus anode harus lebih besar dari suatu nilai yang disebut latching current IL, agar diperoleh cukup ban, agar diperoleh cukup banyak aliran pembawa muatan bebas yang melewati sambungan – sambungan; jika tidak devais akan kembali ke kondisi blocking ketika tegangan anode ke katode berkurang. Latching current IL adalah arus anode minimum yang diperlukan agar dapat membuat thyristor tetap hidup begitu suatu thyristor telah dihidupkan dan sinyal gerbang dihilangkan. Karakteristik v-I umum dari suatu thyristor diberikan pada gambar berikut.

Ketika berada pada kondisi on, thyristor akan bertindak seperti diode yang tidak dapat dikontrol. Devais ini akan terus berada pada kondisi on karena tidak adanya lapisan deplesi pada sambungan J2 karena pembawa – pembawa muatan yang bergerak bebas. Akan tetapi, jika arus maju anode berada di bawah suatu tingkatan yang disebut hoding current IH daerah deplesi akan terbentuk di sekitar J2 karena adanya pengurangan banyak pembawa muatan bebas dan thyristor akan berada pada keadaan blocking. Holding current terjadi pada orde milliamper dan lebih kecil dari latching current IL, IH > IL. Holding current IH adalah arus anode minimum untuk mempertahankan thyristor pada kondisi on.

3. Persyaratan apa yang menyebabkan thyristor mengalirkan arus (turned on)?

Jawab:

Suatu thyristor dihidupkan dengan meningkatkan arus anode. Hal ini dapat dicapai dengan salah satu langkah berikut:

  1. Panas. Jika suhu thyristor cukup tinggi, akan terjadi peningkatan jumlah pasangan electron – hole, sehingga arus bocor semakin meningkat. Peningkatan ini akan menyebabkan α1 dan α2 meningkat. Karena aksi regenerative (α1 + α2) akan menuju ke nilai satuan dan thyristor mungkin akan on. Cara ini dapat menyebabkan thermal runaway dan biasanya dihindari.
  2. Cahaya. Jika cahaya diizinkan mengenai sambungan thyristor, pasangan electron – hole akan meningkat; dan thyristor mungkin akan on. Cara ini dilakukan dengan membiarkan cahaya mengenai silicon wafer dari thyristor.
  3. Tegangan tinggi. Jika tegangan forward anode ke katode lebih besar dari tegangan maju breakdown VBO, arus bocor yang dihasilkan cukup untuk membuat thyristor on. Cara ini merusak dan harus dihindari.
  4. Dv/dt. Jika kecepatan peningkatan tegangan anode – katode cukup tinggi, arus pengisian kapasitor sambungan mungkin cukup untuk membuat thyristor on. Nilai arus pengisian yang tinggi dapat merusak thyristor; dan devais harus diproteksi melawan dv/dt yang tinggi. Manufaktur pembuat thyristor akan menentukan berapa besar dv/dt yang dapat ditangani oleh suatu thyristor.
  5. Arus gerbang. Jika suatu thyristor diberi tegangan bias forward, injeksi arus gerbang dengan menerapkan gerbang positif antara terminal gerbang dan katode akan dapat menbuat thyristor on. Ketika arus gerbang ditingkatkan, tegangan forward blocking akan menurun.

4. Bagaimana thyristor dapat “turned off”?

Jawab:

Thyristor yang berada dalam keadaan on dapat dimatikan dengan mengurangi arus maju ke tingkat di bawah arus holding IH. Ada beberapa variasi teknik untuk membuat thyristor off. Pada semua teknik komutasi, arus anode dipertahankan di bawah arus holding cukup lama, sehingga semua kelebihan pembawa muatan pada keempat layer dapat dikeluarkan.

Akibat dua sambungan pn, J1 dan J3, karakteristik turn – off akan mirip dengan pada diode, berkaitan dengan waktu pemulihan reverse trr dan arus pemulihan reverse puncak IRR. IRR dapat lebih besar daripada arus blocking baik nominal. Pada rangkaian converter line commutated yang tegangan masukannya bersifat bolak – balik, tegangan balik muncul pada thyristor seketika setelah arus maju menuju ke nol. Tegangan balik ini akan mengakselerasi proses turn – off dengan membuang semua kelebihan muatan dari sambungan pn J1 dan J3.

Sambungan pn dalam J2 akan memerlukan waktu yang dikenal sebagai recombination time trr untuk merekombinasikan kelebihan pembawa muatan. Tegangan balik negative akan dapat mengurangi waktu rekombinasi ini. Trr bergantung pada magnitude dari tegangan balik.

5. Apa yang dimaksud dengan komutasi sendiri (line commutated)?

Jawab:

tegangan masukannya bersifat bolak – balik, tegangan balik muncul pada thyristor seketika setelah arus maju menuju ke nol.

6. Apa yang dimaksud dengan komutasi paksa (forced commutated)?

Jawab:

7.  Apa perbedaan antara thyristor dan triac?

Jawab:

TRIAC dapat bersifat konduktif dalam dua arah dan biasanya digunakan untuk pengendalian fasa ac (contohnya: controller tegangan ac). Hal tersebut dapat dianggap sebagai dua buah SCR tersambung secara antiparalel. Karena TRIAC merupakan devais bidirectional, terminalnya tidak dapat ditentukan sebagai ande / katode. Sedangkan pada thyristor hanya satu arah.

8. Apakah yang dimaksud dengan converter?

Jawab: converter adalah suatu alat untuk mengkonversikan daya listrik dari satu bentuk ke bentuk daya listrik lainnya.

Converter terbagi menjadi 5 jenis:

  1. Konverter AC – DC (Rectifier)
  2. Konverter AC – AC (Cycloconverter)
  3. Converter DC – DC (DC Chopper)
  4. Konverter DC – AC (Inverter)
  5. Penyearah: rangkaian penyearah diode mengubah tegangan ac ke tegangan dc tetap. Tegangan masukan ke penyearah dapat bersifat satu fasa ataupun tiga fasa dan diperlihatkan pada gambar berikut

e.1 Penyearah setengah gelombang,  satu phasa

             e.2 Penyearah gelombang penuh, satu phasa

            e.3 Penyearah setengah gelombang, tiga phasa

9. Bagaimana prinsip kerja dari konversi ac ke dc?

Jawab:

Suatu rangkaian converter satu fasa dengan dua natural commutated thyristor diperlihatkan dalam gambar berikut

Nilai rata – rata dari tegangan output dapat dikendalikan dengan mengubah – ubah conduction time dari thyristor satu sudut firing delay, α. Inputnya dapat berupa sumber satu atau tiga fasa. Converter – converter ini juga dikenal sebagai penyearah control.

10. Bagaimana prinsip kerja dari konversi ac ke ac?

Jawab:

Converter ini digunakan untuk memperoleh tegangan keluaran ac  variable dari sumber ac tetap dan converter satu fasa dengan suatu TRIAC pada gambar berikut.

Gambar

Tegangan keluaran dikendalikan dengan mengubah – ubah conduction time dari TRIAC atau sudut delay penyalaan, α. Tipe converter ini dikenal juga sebagai controller tegangan ac.

11. Bagaimana prinsip kerja dari konversi dc ke dc?

Jawab:

Converter dc – dc juga dikenal sebagai dc chopper atau pensaklaran regulator dan suatu rangkaian transistor chopper diberikan pada gambar berikut.

Tegangan keluaran rata – rata dikendalikan dengan mengubah – ubah conduction time t dan transistor Q1. Jika T adalah periode chopping, maka t1 = δT. δ dikenal sebagai sebagai duty cycle dari chopper-nya.

12. Bagaimana prinsip kerja dari konversi dc ke ac?

Jawab:

Converter dc – ac dikenal juga sebagai inverter. Suatu inverter transistor fasa tunggal diperlihatkan pada gambar berikut.

Jika transistor M1 dan M2 tersambung pada setengah periode, dan M3 dan M4 tersambung pada setengah periode lainnya, keluaran akan berbentuk tegangan ac. Tegangan keluaran dapat dikendalikan dengan mengubah – ubah conduction time dari transistor.

8 responses »

  1. Permisi Laura Yuliardhilla, saya mau bertanya, untuk mendapatkan buku Muhammad H. Rasyid yang edisi Bahasa Indonesia dimana ya? Mungkin Laura bisa membantu saya. Terimakasih.

    • Saya dapat buku edisi Bahasa Indonesia tersebut lewat perpustakaan Institut Teknologi Telkom Mas. Saya belum tahu kalau beli atau akses e-booknya yang Indonesia. E-book pun saya hanya punya edisi English-nya. Yang saya tulis di blog ini (jika dalam bahasa Indonesia) merupakan saduran dari buku versi Indonesia yang saya pinjam di perpus atau terjemahan dari buku bahasa Inggris. Jika anda merupakan anggota dari FPPT Jawa Barat, anda dapat masuk ke perpustakaan IT TELKOM dan dapat membaca buku tersebut di sana. Semoga membantu.🙂

  2. makasih banyak mba nanti saya cek..oh indonya di perpus it telkom..kl blh tau mba lala dl skripsiny pa?ko da catatan tentang statcom?makasih byk mba ats bantuanny

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s